Kauniyah dan Qauliyyah

Kauniyah dan Qauliyyah

Alangkah singkatnya waktu untuk mencapai tujuan bila jalan yang ditempuh lurus, kendaraannya handal dan pengendaranya bersabar. Alangkah panjangnya perjalanan yang singkat bila para penjelajah membuang-buang waktu, intervensi rute yang bukan hak mereka dan tak punya keteguhan hati.

Bila para ilmuwan menjelaskan, bahwa sel-sel darah putih dan sistim ketahanan tubuh itu bagian dari ayat-ayat Allah, publik tak perlu risau berapa jam pelajaran agama digelar di sekolah-sekolah. Demikian pula dengan kerja jantung, aliran darah, sistim syaraf, antariksa, alam bawah lautan, aroma dan rasa, hidup dan mati, semua ayat-ayat kauniyah-Nya.

Tetapi berapa guru, dosen dan ilmuwan yang mau membahasakan kuasa-Nya yang besar itu dalam konteks ilmiah? Seseorang bisa langsung disebut fatalis bila menisbahkan semua itu kepada-Nya, tak peduli apakah ia sangat berprestasi di bidangnya dan beradab dalam kehidupannya. Dan, sebaliknya tukang cap itu tak mampu memberi jawaban memuaskan tentang misteri alam yang tak mampu mereka ingkari ketertiban, kecermatan, keseimbangan gravitasi, harmoni dan keindahannya. Ataukah soal penguasaan kitab kuning yang menjadi jaminan? Soalnya bukan hafal berapa kitab kuning, menguasai berapa jenis mantera atau menghafal sungsang kitab Alfiah, seribu bait qaidah-qaidah bahasa Arab. Bukankah semua itu tidak otomatis membuat pemiliknya imun terhadap pelecehan perempuan atau arogansi terhadap hamba-hamba-Nya atau mulut lancang berfatwa: Darah si Fulan halal dan farj si Fulanah halal! Mereka telah kacaukan wilayah ilmiah dan wilayah hawa nafsu.
Rasulullah SAW telah menandai kawasan yang boleh dan tak boleh dilalui.”Idza dzukiral Qadar fa amsiku” (Apabila disebut-sebut takdir, maka diamlah kamu). Demikian pula tentang pertanyaan konyol: “Alam ini diciptakan Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah?” Nampak sederhana pesan-pesan itu, tetapi kini menjadi signifikan, saat beberapa orang yang mengklaim atau dianggap punya otoritas dalam keagamaan begitu bangga meninggalkan shalat, berdemo untuk kebebasan berbuat munkar dan pamer kedunguan.

Mengapa harus menghabiskan usia untuk pertanyaan-pertanyaan usil? Untuk keuntungan siapa mereka bekerja? Untuk musuh yang tak tahan lagi menyembunyikan permusuhan mereka? Apa kelebihan melecehkan syariah dan bertingkah arogan di hadapan pemilik syariah? Andai saja mereka pergi sejak pagi dan meniti jenjang karir di keluasan ayat-ayat kauniyah; riset cuaca, teknologi tinggi atau pun tepat guna, bidang pendidikan, biotek atau segala yang bermanfaat langsung bagi ummat. Ataukah otak mereka terlalu tumpul untuk memahami teknologi dan sains? Bagaimana mungkin orang memperkatakan tentang firman tanpa kenal Si Empunya firman? Ataukah mereka sangat mengenalnya sebagai obyek mati dalam debat kusir di depan kelas kuliah tanpa pernah mampir di hati rasa hormat kepada-Nya? Siapa sesungguhnya bagian dari sebab harga diri ummat direndahkan, martabat mereka dihinakan, kekayaan negeri mereka dirampok habis-habisan, bangsa mereka diperbudak, bisnis mereka diperjudikan dan diancam kolonialisme baru yang lebih mengerikan? Sejenis penyakit lama sedang berjangkit saat pemikiran degil Bani Israil berulang. Pada wilayah absolut Allah mereka ingin menjelajah dan fikiran nyeleneh pun jadi sanjungan. Demikianlah bani Israil menuntut: “…. kami takkan beriman kepadamu sebelum  dapat melihat Allah secara nyata (kasat mata)!” (Qs. Al-Baqarah: 55).

Pada saat rekayasa, kesungguhan bekerja dan kecerdasan menganalogi diperlukan, mereka inginkan Tuhan yang bekerja. “Dan ingatlah ketika kalian berkata, ‘Hai Musa, sesungguhnya kami takkan sabar dengan makanan sejenis. Maka mintakanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar ia mengeluarkan untuk kami dari yang ditumbuhkan bumi; sayur-mayurnya, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya…’”(Qs. Al-Baqarah: 61)

Benarkah ini pertarungan wacana yang elegan dan polemik ilmiah Islam yang terbuka dan bersahabat. Bila di seberang sana ada orang dengan klaim berjuta pengikut dengan sengit merekomendasikan pemberangusan terhadap apa yang mereka sebut fundamen-talisme suatu istilah yang sama absurdnya dengan terorisme dan tuyul. Maka, sesung-guhnya kapak perang telah digali dan para pengikut lugu tak lagi melihatnya sebagai hikmah di balik diplomasi dan helah! Tetapi tidak berarti ini saatnya membuka mimbar bebas molotov atau kelewang. Memang menyakitkan tikaman dari belakang, ketika ummat yang lelah berusaha bangkit menggapai masa depannya yang cerah, yang menayangkan pagelaran besar tenggelamnya peradaban kebendaan yang kering, angkuh dan egois.

Dan telikung kerabat jauh lebih menyakitkan dari tikaman pedang Hindi

Ini saat kesabaran diuji, ketajaman pena dinanti dan kesungguhan menerapkan nilai-nilai dihargai. Kesabaran saat bahasa kekuasaan dengan bermacam-macam awalan, imbuhan, sisipan dan akhiran bergaya; dari pernyataan pejabat yang korup, hipokrit dan berkolaborasi dengan musuh, intelektual lancung sampai mass media yang terus menerus menyiarkan tuduhan, stigma dan pembunuhan karakter ummat.

Alangkah luasnya kasih sayang Allah yang menyelamatkan manusia dari kewajiban memikirkan Dzat-Nya, mempertanyakan keadilan-Nya, keputusan-Nya, adzab dan nikmat-Nya dan hak prerogatif-Nya! Segelintir orang nekad menerobos luar wilayahnya, campur tangan yang bukan urusannya dan ingin menjadi martir dalam perang melawan kemapanan. Sayang bukan kemapanan tiran atau orde korup, tetapi kemapanan iman dan kekokohan syariah, padahal ”Ia tak dapat ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanya.”(QS. Al-Anbiya: 23).

Haruskah memilihkan ummat teologi apa yang sepatutnya mereka yakini agar dapat dinamis dan modern ? Tanyakan pada dunia, apa Pakistan yang Muslim, Jepang yang Shinto, India yang Hindu, Israel yang Yahudi/Zionis, Jerman, Belanda dan Inggris yang Protestan, Prancis yang Katholik, Amerika dan Australia yang multi aliran, Sovyet dan China yang (pernah) atheis dan Orthodox atau bertuhan dengan ketakutan, pernahkah mereka berfikir teologi apa yang mereka anut agar dapat meledakkan nuklir dan mengembangkan biogenetika? Apakah seorang haji yang shalat 1.000 rakaat sehari menjadi kebal sengatan listrik atau menjalankan mobil berbahan bakar cuka atau air got, karena keshalihannya. Atau seorang atheis gagal menerbangkan satelitnya karena tidak bertuhan? Atau seorang serdadu Zionis tak berhasil memecahkan kepala bayi Palestina, karena yang pertama Yahudi dan kedua Muslim? Bukankah rekayasa tanaman, sehingga berbuah tanpa biji atau pencepatan panen menjadi 5 kali setahun, itu semua menjalankan prinsip-prinsip keislaman makhluk tersebut, lepas dari keangkuhan sang ilmuan yang enggan menundukkan diri (Islam) sebagai pilihan sadarnya. “Apakah selain agama Allah yang mereka cari, padahal kepada-Nya telah Islam segala yang di langit dan di bumi…” (QS. Ali Imran: 83).

Disana mereka menerima dan mengikuti karakter ayat-ayat kauniyah dengan atau tanpa menyebut Pemiliknya. Disini beberapa menghindari pesan ayat-ayat qauliyah atau menafsirkannya dengan perasaan muslim yang hina dan malu, seraya mengharamkan akal dari ayat-ayat kauniyah. Yang lain membombardir hamba dengan ancaman dosa tanpa memperkenalkan mereka akan kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Menteror dengan hak-hak Uluhiyah-Nya tanpa memperkaya mereka dengan wawasan Rububiyah-Nya. Wallahu’alam.

–tulisan almarhum KH. Rahmat Abdullah –

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: