Hikmah Isra’ Mi’raj

BATU MI’RAJ

Hikmah Isra’ Mi’raj Sekarang kita telah memasuki separo lebih bulan rojab dimana pada akhir bulan ini kita sebagai seorang muslim telah diingatkan kembali sebuah peristiwa besar dalam sejarah umat islam. Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah SAW yaitu peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi’raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah). Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra (dikenal juga dengan S. Bani Israil) ayat pertama: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi’raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut: Pertama: Konteks situasi terjadinya Kita kenal, Isra’ wal Mi’raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah SAW dalam situasi yang sangat “sumpek”, seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah r.a. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maunpun psikologis kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas. Dalam sitausi seperti inilah, rupanya “rahmah” Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. “warahamatii wasi’at kulla syaei”, demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk “berjalan-jalan” (saraa) menelusuri napak tilas “perjuangan” para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di “Sidartul Muntaha”. Sungguh sebuah “penyejuk” yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah SAW untuk kembali “menenangkan” jiwa, mempermantap tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan. Artinya, bahwa kita adalah “rasul-rasul” Rasulullah SAW dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada sebuah “perjalanan” yang menyejukkan. “Allahu Waliyyulladziina aamanu” (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman”. Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan. Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara da metode yang Hanya Allah yang tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah, maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur, konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. “Wa laa taeasuu min rahmatillah” (jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah). Kedua: Pensucian Hati Disebutkan bahwa sebelum di bawa oleh Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah SAW berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit “dendam”, dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak…sungguh mati…tidak. Beliau hamba yang “ma’shuum” (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya? Rasulullah adalah sosok “uswah”, pribadi yang hadir di tengah-tengah umat sebagai, tidak saja “muballigh” (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi “percontohan” bagi semua yang mengaku pengikutnya. “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah”. Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan “suci” yang seharusnya dibangun dalam suasa “kefitrahan”. Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai “nurani”, itulah lentera perjalanan hidup. Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan “karat” kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian “penentu” baik atau tidaknya seseorang pemilik hati. ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سير عمله، وإذا فسدت فسدت سير عمله. Disebutkan bahwa hati manusia awalnya putih bersih. Ia ibarat kertas putih dengan tiada noda sedikitpun. Namun karena manusia, setiap kali melakukan dosa-dosa setiap kali pula terjatuh noda hitam pada hati, yang pada akhirnya menjadikannya hitam pekat. Kalaulah saja, manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan menambah dosa dan noda, maka akhirnya Allah akan akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. “Khatamallahu ‘alaa quluubihim”. Di Al Qur’an sendiri, Allah berfirman” قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا Artinya: Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya”. Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju “ilahi” dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut. Ketiga: Memilih Susu – Menolak Khamar Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh menfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-nginjak akal, menurunkan tingkat inteletualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri “suci”. Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, hanya memang ada dua alternatif di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan kerugian. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk menerima selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan “ketidak senangan” terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya. Dalam hidup ini seringkali kita diperhadapkan kepada pilihan-pilihan yang samar. Fitra menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup ini, ternyata kita seringkali terperangkap kepada pilihan-pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah itu disebabkan oleh tumpulnya firtah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan. Keempat: Imam Shalat Berjama’ah Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepadaYang Maha Pencipta. Pada shalatlah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal yang seorang Muslim senantiasa menjadi tujuan hidupnya. Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama’ah, dan tidak tanggung-tanggung ma’mumnya adalah para anbiyaa (nabi-nabi), maka sungguh itu adalah suatu pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin sebuah umat besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, Eyangnya banyak nabi dan Rasul, menerima menjadi Ma’mum Rasulullah SAW. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar bahwa Rasulullah memang memiliki kelebihan-kelebihan “leadership”, walau secara senioritas beliaulah seharusnya menjadi Imam. Kempimpinan dalam shalat berjama’ah sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan sekaligus mengaitkan antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh: “Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan”. Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya. Baghaimana dengan kita sebagai pengikut nabi muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria “imaamah” atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al Qur’an masih menjadi “tanda tanya” besar pada kalangan umat ini. “Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami”. Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik, bukan dalam shalat berjama’ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia. Namun lebih banyak yang bersifat negatif. Kelima: Kembali ke Bumi dengan Shalat Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar bahwa betapapun ni’matnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa ni’mat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan keni’matan yang dirasakan malam itu, harus ditinggalkan untuk kembali ke dunia beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya. Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan “dzikir”, dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. “Wadzkurullaha katsiira” (dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak), pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari “fadhalNya” dipermukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah SAW membawa bekal shalat 5 waktu berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi’raj). Pesona Kelembutan Islam Ditulis oleh Ustadz Abdullah Hakamsyah, Lc. Di antara akhlak Nabi Saw. yang paling menonjol, beliau adalah pribadi yang lemah-lembut. Kesaksian semua orang yang pernah semasa dengan beliau, menggambarkan bahwa beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah mengumpat, dan tidak pernah berlaku bengis. Bahkan, beliau Saw. tidak pernah marah, kecuali terhadap perbuatan yang melanggar kehormatan agama. Dalam ungkapan yang singkat, Dr. Yusuf al-Qardhawi mengatakan, “Barangsiapa membaca sunnah Rasul Saw., baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka akan menemukan pancaran kelemahlembutan dalam berdakwah dan interaksi sehari-hari.” Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari perangai lemah-lembut, seperti telah dicontohkan oleh Nabi Saw. Yaitu di antaranya: Pertama, kelemahlembutan bisa membuat kita menjadi pribadi yang indah. Secara garis besar, Allah Swt. mengkaruniakan dua keindahan kepada manusia: keindahan fisik, dan keindahan kepribadian. Manusia pada umumnya mudah terpukau oleh keindahan fisik. Namun, keindahan fisik ini akan segera kehilangan kesan bila tingkah-laku dan kata-katanya kasar. Di sinilah, kelemahlembutan menjadi kunci untuk mewujudkan pribadi yang indah. Nabi Saw. bersabda: “إن الله يعطي على الرفق ما لا يعطي على العنف, وما لا يعطي على ما سواه”. “Sesungguhnya Allah memberi (keutamaan) kepada kelemahlembutan, yang tidak diberikanNya kepada kekerasan, dan tidak juga diberikanNya kepada (sifat-sifat) yang lain.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah ra.) Dalam kesempatan lain, Nabi Saw. bersabda: “إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه, ولا ينزع من شيء إلا شانه”. “Sesungguhnya kelemahlembutan tidak melekat pada sebuah pribadi kecuali sebagai perhiasan, dan tidak terlepas darinya kecuali sebagai keaiban.” (HR. Muslim) Kedua, kelemahlembutan bisa membentuk orang-orang dan lingkungan di sekitar kita. Banyak Sahabat radhiyalLahu ta’âlâ ‘anhum yang memperoleh hidayah (masuk Islam) setelah menyaksikan pribadi Nabi Saw. yang lemah-lembut. Salah satunya: Tsumâmah bin Atsâl ra. Suatu hari, Tsumâmah yang masih musyrik tertangkap dalam sebuah peperangan melawan kaum Muslimin. Ketika Nabi Saw. menjenguk para tawanan, beliau sempat bertanya kepada Tsumâmah, “Apa yang ingin kau katakana, wahai Tsumâmah?” Tsumâmah menjawab, “Jika kau hendak membunuhku, hai Muhammad, sesungguhnya kau membunuh seseorang yang memiliki pengaruh kuat. Jika mau berbuat baik kepadaku, maka kau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika kau ingin harta tebusan, sebutkan saja berapa pun jumlahnya, pasti akan aku bayar.” Namun Nabi Saw. tidak memerintahkan untuk membunuh Tsumâmah, atau meminta tebusan darinya. Beliau Saw. malah mengingatkan para Sahabat ra. agar merawat Tsumâmah dan tawanan lainnya dengan baik. Demikianlah, sampai tiga kali kesempatan Nabi Saw. menanyakan hal yang sama kepada Tsumâmah, ia terus menantang untuk dibunuh saja atau membayar tebusan dalam jumlah yang besar. Setelah para tawanan tersebut dirawat hingga pulih kondisi mereka, alih-alih mereka dibunuh atau dimintai uang tebusan; Nabi Saw. dengan senyum mengembang malah membebaskan mereka tanpa syarat dan menyuruh mereka untuk kembali kepada keluarga masing. Tsumâmah pun beranjak meninggalkan Nabi Saw dan para Sahabat ra. Namun tak lama berselang, ia kembali menghadap Nabi Saw., mengikrarkan keislamannya. Lalu ia berkata, “Sungguh, wahai Rasulullah, sebelum ini tiada orang yang paling saya benci di dunia selain anda. Tapi sekarang anda menjadi orang yang paling saya cintai di dunia ini.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ketiga, kelemahlembutan adalah pelindung hati dari noda dan penyakit kalbu. Yang perlu disadari, ketika kita berkata kasar dan mengumpat, sebenarnya kita tidak sedang merugikan orang lain. Tapi, terlebih lagi, kita sedang menodai hati kita sendiri, mengotorinya dengan kekasaran, serta membuatnya menjadi keras. Suatu kali, Nabi Saw. tengah dudukbersama Aisyah ra. Lalu melintaslah sekelompok orang Yahudi di hadapan beliau. Tiba-tiba mereka menyapa Nabi Saw. dengan memelesetkan ungkapan “Assalâmu’alaikum” menjadi “Assâmu ‘alaika”—kebinasaan atasmu, hai Muhammad. Mendengar serapah orang-orang Yahudi itu, Aisyah ra. naik pitam dan balik memaki mereka. Namun Nabi Saw. segera menenangkan Aisyah ra. dan memintanya agar tidak mengotori mulut dan hatinya dengan kekasaran dan kebencian. Lalu beliau memberikan alasan: “إن الله رفيق ويحب الرفق في الأمر كله”. “Sesungguhnya Allah Swt. lembut, dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal.” (HR. al-Bukhari) Lemah-lembut dalam tutur kata, lemah-lembut dalam canda, serta lemah-lembut dalam tingkah-laku ternyata merupakan salah satu keteladanan yang paling menonjol dalam diri Rasulullah Saw. Dan saat ini, dalam keseharian kita, baik dalam lingkup kehidupan sosial yang paling kecil hingga yang paling besar; betapa kita menghajatkan keteladanan ini demi terus menjaga keseimbangan sosial yang kita miliki. Toh Allah Swt. telah berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu; yaitu bagi orang-orang yang mengharap (keridhaan) Allah…” (Al-Ahzâb; 21) Kelemahlembutan bukan indikasi ketidakberdayaan, tetapi merupakan tanda kemampuan untuk mengendalikan diri. Sebaliknya, kekasaran bukan tanda kekuasaan, namun tanda kerapuhan emosional dan kelemahan kepribadian. Pada titik singgung ini, Nabi Saw. bersabda: “إذا أحبّ الله عبدا أعطاه الرفق. وما من أهل بيت يحرّمون الرفق إلا حرّموا الخير”. “Apabila Allah Swt. menyukai seorang hamba, maka Ia akan mengkaruniainya kelemahlembutan. Dan barangsiapa dari keluargaku yang mengharamkan/menjauhi kelemahlembutan, maka sesungguhnya dia telah menjauhi kebaikan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud) Belajarlah dari Keluarga Ibrahim a.s. Ditulis oleh H. Muhammad Adnan, Lc Kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia yang berjumlah sekitar 2 juta orang setiap tahunnya menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menunaikan ibadah haji itu untuk kesekian kalinya, tak ada perasaan bosan apalagi kapok dalam menunaikan ibadah haji meskipun harus berkorban dengan harta, tenaga dan menghadapi sejumlah kesulitan. Bahkan setiap muslim yang sudah menunaikannya tetap ingin mengulanginya lagi meskipun kewajiban haji hanya sekali dalam seumur hidup. Kalau bukan panggilan iman, mana mungkin seorang hamba mau meninggalkan segala urusan duniawi dengan pengorbanan harta, waktu dan tenaga guna menunaikan ibadah haji. Sudah lama niat ditancapkan ke dalam hati, danan dikumpulkan, lesehatanbadan dijaga, manasik haji dihafalkan dan fatwa-fatwa serta nasehat-nasehat para ulama dihayati dalam-dalam dengan harapan agar cita-cita menunaikan ibadah haji tidak sia-sia dihadapan Allah swt. Ibadah haji memberikan pelajaran yang sangat besar dan berharga kepada setiap orang yang menunaikannya, karenanya pantas kalau haji kita sebut juga sebagai madrasah atau sekolah yang diantara fungsinya adalah untuk membina dan menempa orang yang berada didalamnya. Kalau kita sederhanakan, paling tidak ada tujuh tempaan atau binaan ibadah haji bagi orang yang menunaikannya. Pertama, ibadah haji membina kepada jamaahnya untuk selalu mengagungkan Allah swt, ini terlihat dari ucapan Labbaik Allahumma Labbaika la syariika Labbaik (Aku memenuhi panggilanMu ya Allah, Aku memenuhi panggilanMu yang tiada sekutu bagiMu), ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang pantas dijadikan Tuhan dan diagung-agungkan dalam kehidupan ini. Pengagungan terhadap Allah tidak hanya karena ucapan talbiyah itu, tapi seluruh jamaah haji memang harus menunaikan ibadah yang sesuai dengan ketentuan Allah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul saw dan ini berarti ibadah haji merupakan simbol dari penyerahan total kepada Allah swt sehingga kaum muslimin dalam menunaikan ibadah haji tidak terlalu bertanya-tanya apalagi mempersoalkan amalan-amalan yang harus dilaksanakan seperti tawaf, sai dan sebagainya. Seorang muslim memang bisa saja berkata: “yang penting kan essensi atau maksud ibadah haji yang harus kita tunaikan, untuk apalagi simbol-simbol yang terdapat dalam ibadah haji itu?”. tai baagi muslim yang sejati, dia akan menyadari bahwa ibaah haji itu merupakan salahsatu bentuk ujian Allah kepada hamba-hambaNya apakah manusia mau loyal atau tidak kepada Allah swt. Kedua, ibadah haji juga membina kaum muslimin untuk membuktikan semangat ukhuwahnya, tidak hanya dalam bentuk jiwa, tapi juga raga karena telah dipertemukan oleh Allah dalam satu tempat, maksud dan tujuan yang sama, bacaan yang sama hingga pakaian yang sama, tak ada perbedaan suku, ras, warna kulit, bahasa, pangkat, kedudukan dan sebagainya, semua harus menunaikan ibadah haji deng ketentua-ketentuan yang sama. Dari semangat ukhuwah ini, kaum muslimin seharusnya semakin menyadari bahwa seorang haji semestinya lebih hebat semangat ukhuwahdalam upaya menegakkan agama Allah dimuka bumi ini. Dalam kaitan ini ibadah haji telah membangkitkan perasaan kasih sayang dengan sesama muslim, pengendalian hawa nafsu dan semangat kebersamaan yang pada akhirnya diharapkan bisa membangkitkan kekuatan solidaritas Umat Islam sedunia. Binaan ketiga yang diperoleh kaum muslimin dari menunaikan ibadah haji adalah menumbuhkan semangat berkorban tanpa pamrih, hal ini karena ibadah haji memang harus ditunaikan dengna pengorbanan yang sangat besar, baik berupa harta, jiwa, tenaga hingga waktu yang tersedia untuknya dlam kehidupan ini. Hasil tempaan atau binaan dlam ibadah haji terhadpa kaum muslimin semestinya membuat kaum muslimin tidak segan-segan untuk berkorban dengan harta dan jiwanya dan dengan semua itu dia tidka akan menjadi manusia yang lupa atau lali dari mengingat Allah sw, Allah berfirman : يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi (surat al-Munafiquun : 9) keempat yang merupakan binaan atau tempaan dari ibadah haji kepada kaum muslimin adalah memperkuat ikatan sejarah yang membawa kaum muslimin kepad jejak sejarah Islam pertama, hal ini karena memang ibadah haji itu juga napak tilas nabi Ibrahim, seorang nabi yang sangat gigih dalam perjuangan menegakkan agama Allah yang juga mendapat dukungan yang luarbiasa dari istri dan anak-anaknya. Nabi Ibarahim mendapat juluikan Bapaknya para nabi, karena dari keturunannya lahir para nabi. Nabi Ibrahim dengan kecintaannnya yang luar biasa kepada Allah membuat dia siap dihukum mati dengan cara dibakar meskipun kemudian Allah menolongnya, juga dengan ikhlas melaksanakan perintah pengorbanan anaknya Ismail, sementara Ismail juga dengan sabar menerima ketentua itu dan Siti Hajar sang istri tercinta juga rela dengna terhadap keputusan Allah hingga dia berhasil mengusir syetan yang berusaha menggodanya. Oleh karena itu dengan melaksanakan ibadah haji seorang muslim semestinya tidak sekedar meraskan kenikmatan beribadah secara ritual, tapi juga dapat membayangkan dan menghayati betapa berat perjuanga para nbai dalam dakwah serta dapat juga menghayati nikmatnya perjuangan itu meskipun dengan tantangan yang berat, dari sini diharapkan seorang haji juga dapat membuktikan keberhasilan ibadah hajinya dengan ikut serta secara aktif dalam dakwah guna memperbaiki kondsi akhlak manusia yang kita rasakan sekarang terjadi kerusakan yang sangat mengkhawatirkan. Hadirin Kaum muslimin yang dimulaiakan Allah Kelima, ibadah hajijuga menempa kaum muslimin untuk menjadi orang yang berani dan siap menghadapi mati, apalagi ibadah ini merupakan simbol penyerahan total manusia kepada Allah, sehingga ibadah haji itu latihan untuk kembali kepada Allah sebagaimana layaknya orang yang meninggal dunia. Telah dilatih jamaah haji itu untuk menggunakan kain kafan dengna pakaian ihram, doilatih juga untuk membayankan suasana di padang mahsyar dengan wukuf di padang Arafah dan sebagainya, bahkan dilatih untuk melawan syaitan yang selalu menggoda agar manusia terlalu cinta dunia dan takut pada mati. Oleh karena itu kalau kemudia ada ornag yang sudah menunaikan ibadah haji tapi masih saja takut kepada mati itu menunjukkkan kekurangberhasilan ibadah haji yang dilakukannya, apalgi kalau dia masih saja tunduk pada keinginan-keingaina syaithan. Keenam, yang juga merupakan tempaan dari ibadah haji adalah mendidik seorang muslim untuk selalu menjaga kehormatan dirinya, karena seorang haji yang bmabrur tentu harus membuktikan kemabruran hajinya itu dengan kehormatan diri sehingga dia harus jaga dirinya agar jangan sampai melakukan hal-hal yang menodai nilai hajinya itu. Apalagi bagi seorang muslim yang karena sudah menunaikan ibadah haji lalau dia menambah gelar haji didepan namanya, ini memebuat dia harus lebih ahti-hati lagi agar jangan samapai melakukan hal-hal yang bernilai maksiat, karena apa kata orang kalau seorang haji melakukan kemaksiatan. Tempaan ketujuh yang diperoleh dati menunaikan ibadah haji adalah agar seorang muslim memiliki kesimbangan cinta. Manusia memang cenderung untuk mencintai segala yang membawa kenikmatan duniawi dan Allah sendiri tidak melarang manusia untuk mencintai dunia dan segala isinya, hanya kecintaan kepada Allah dan Rasulnya harus diatas segala-galanya sehingga kecintaan pada ha—hal yang sifanya duniawi seperti anak, istri, harta, rumah, jabatan, pekerjaan dan sebagainya tidka melebihi dari kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Seorang muslim memang tidka dibenarkan mencintai selain Allah yang melebihi kecintaannya kepada Allah, bahkan jangankan melebihi kecintaannya kepada Allah, sama saja dalam cinta antara Allah dengnaselainnya sudah tidak dibenarkan, hal ini dikemukakan oleh Allah swt dalam kecintaan seorang mukmin yang sejati, Allah berfirman ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين أشد حبا لله “Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandinga selain Allah, mereka mencintainya sebagamana mereka mencintai Allah. Adapun ornag-orang yang beriman sangat mencintai Allah” (Surat Al-Baqarah :165) Hari raya Idul Adha yang kita peringati dan kita rayakan setiap tahun telah memberikan kesan dan pelajaran yang dalam untuk kta semua, khususnya dalam kaitan mengenang tokoh-tokoh yang terkait dengan peristiwa pengorbanan. Nabi Ibrahim as, Siti Hajar dan Ismail as, mereka merupakan figur-figur yang memang patut kita teladani, khususnya dalam kaitannya sebagai bapak atau suami, ibu atau istri dana anak atau generasi muda. Allah swt sendiri memang telah menyebutkan bahwa pada mereka itu terdapat keteladanan yang sangat tinggi. Allah berfirman : قد كانت لكم أسوة حسنة فى إبراهيم والذين معه إذ قالوا لقومهم إنا برؤا منكم ومما تعبدون من دون الله. “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamuu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah” (Surat Al-Mumtahanah: 4) Oleh karena pada generasi Ibrahim itu terdapat keteladanan yang mengagumkan, baik dari diri nabi Ibrahim as sendiri, Siti Hajar istrinya maupun Ismail assebagai anak yang dihasilkannya, tentu terdapat ciri-ciri yang harus kita teladani dan kita jadikan pedoman dalam bentuk karakter generasi muda kita sekarang dan dimasa-mas yang akan datang. Ada enam ciri generasi Ibrahim yang harus kita tanamkan kedalam diri kita dan generasi muda kita pada masa kini dan mendatang manakala kita ingin memiliki generasi Islam yang lebih baik dari waktu ke waktu. Pertama, yang merupakan ciri dari generasi Ibrahim adalah kritis dalam mencari dan menerima kebenaran, karena itu generasi Ibrahim tidka larut dengan keadaan zaman disekitarnya, generasi Ibrahim adalah generasi yang pandai memisahkan mana yang hak dan mana yang batil untuk selanjutnya memilih yang hak dan meninggalkan yang batil. Pelajaran ini nampak dari kisah Nabi Ibrahim as dalam mencari tuhan dengan mengatakan kepada bapaknya yang bernama Azar : أتتخذ أصناما آلهة إنى أراك وقومك فى ضلال مبين “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummmu dalam kesesatan yagn nyata. (Al-Anam : 74) Semula ketika Ibrahim as melihat bintang dia menduganya sebagai tuhan dengna mengatakan: “Inilah Tuhanku”, tapi ia tidak suka saat bintang itu tenggelam. Lalu ketika bulan nampak, ia berkata: “Inilah Tuhanku”, tapi ia juga tidak suka ketika bulan itu terbenam, ketika matahari terbit, ia berkata: “Inilah Tuhanku”, tapi ia tidak menuhankan matahari karena matahari juga terbenam sampai akhirnya ia menemukan Tuhan Allah yang hak. Demikianlah generasi Ibrahim dengan daya kritisnya yang tinggi untuk bersikap dan bertingkah laku, karena itu generasi yang harus kita bina harus memiliki sikap kritis sehingga tidak mudah diomabang ambing oleh berbagai mode. Kedua, ciri generasi Ibrahim yang seharusnya ada pada generasi kita adalah memiliki sikap dan perilaku yang menyatu dengan ajaran Islam sehingga ia berlepas diri dati segala macam bentuk kekufuran. Sikap seperti ini membuat dia tidka mungkin suka kepada segala bentuk kemaksiatan karena hal itu merupakan cermin dari sikapnya kepada kekufuran. Surat Al-Mumtahanah ayat 4 tadi datas mencerminkan sikpa seperti ini. Ketiga, yang merupakan ciri generasi Ibrahim adalah memiliki kebanggaan sebagia seorang muslim sehingga dai selalu menunjukkan identitasnya sebagai muslim dimanapun dia berada dalam berbagai situasi dan kondisi. Sikap ini tercermin dalam firman Allah : فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون “Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah” (surat Al-Imran :64) Keempat, yang juga menjadi ciri generasi Ibrahimm adalah memiliki ilmu yang banyak sehingga dengan ilmu itu mereka mencapi prestasi yang tinnggi. Oleh karena itu generasi kita sekrang juga harus memiliki semangat yang tinggi dalam mencari ilmu dan gemar pula mengamlkan ilmu untuk kebaikan dijalan Allah swt, sifat ini terceermin dalm firman Allah: واذكر عبادنا إبراهيم وإسحاق ويعقوب أولى الأيدى والأبصار “Dan ingatlah hamba-hamba Kami, Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmmu yang tinggi”.(surat shad :45) Kelima, yang juga menjadi ciri penting dari generasi Ibrahim adalah sanggup menghadapi resiko dalam perjuangan menegakkan kebenaran, hal ini karena perjuangan dijalan Allah memang akan berhadapan denan ssejumlah kendala dan Nabi Ibrahim as telah membuktikan keberaniaannya menanggung resiko sampai siap dibakar sekalipun, keberanian seperti ini memang harus kita tiru dalam kehidupan kita sekarang. Allah menceritakan sikap berani Nabi Ibrahim dalam firmannya: فراغ عليهم ضربا باليمين فأقبلوا إليه يزفون قال أتعبدون ما تنحتون والله خلقكم وما تعملون قالوا ابنوا له بنيانا فألقوه فى الجحيم. “Lalu dihadapinya berhal-berhala itu sambil memukulnya dengan tangannya. Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu, padahal Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kau perbuat itu. Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk membakar Ibrahim, lalu lemparkanlah dia kedalam api yang menyala-nyala itu”.(surat as-shafat:93-97) Namun karena keberanian yang luar biasa itulah, Allah swt memberikan pertolongan dengan diselamatkannya Ibrahim dari jilatan api yang panas, apalagi Raja Namrud menunjukkan kesombongannya, hal itu diceritakan Allah dalam firmanNya: قالوا حرقوه وانصروا آلهتكم إن كنتم فاعلين. لنا يا نار كونى بردا وسلاما على إبراهيم “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan banulan tuhan-uahn kamu jika kamu benar-benar hendak bertindak”. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatankah bagi Ibrahim (Surat al-Anbiya: 68-69) Ciri keenam dari generasi Ibrahim adalah sangup dan mau berkorban demi kepentingan Islam dan umatnya. Ini nampak sekali dari gambaran ayat diatas dimanaIbrahim as memangg sanggup dan mau berkorban meskipun harus dengan nyawa sekalipun bagi usaha meneegakkan ajaran Islam, bahkan ketika Allah memerintahkannnya mengorbankan sang anak yang bernama Ismail as, diapun melakukannya dengan hati yang mantap. Oleh karena itu generasi kita sekarang juga harus dibentuk agar menjadi generasi yang sanggup dan mau berkorban dijalan Allah karena memang tiada perjuangan tanpa pengorbanan. Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa demikian ideal gambaran dari generasi Ibrahim as dan bila kita menilai generasi kita pada masa sekarang, maka terasa betul kesenjangan yang sedemikian jauh. Namun hal ini tidak perlu kita khawatirkan selama kita mau berusaha semaksimal mungkin mendidik generasi sekarang dengan pendidikan yang sebaik mungkin. Hari raya Idul Adha yang juga dikenal dengan hari raya Qurban salahsatu hikmahnya adalah mengingatkan kepada kita bahwa ajaran Islam itu memang harus ditegakkan dimuka bumi ini dan untuk menegakkannya Idul Adha juga mengingatkan akan pentingnya berkorban dalam kehidupan kita sebagai muslim yang berkewajiban menegakkan nilai-nilai Islam. Dalam konteks perjuangan dijalan Allah, pengorbanan menjadi lebih penting lagi karena memang tidak mungkin perjuangan bisa berjalan dengan baik tanpa pengorbanan yang harus dilakukan oleh kaum muslimin. Pengorbanan dalam perjuangan di jalan Allah itulah yang memang telah dicontohkan oleh para Rasul terdahulu dan Rasul saw serta para sahabatnya. Dalam kaitan kita harus berkorban itulah ada firman Allah yang mengingatkan kita agar jangan sampai harta dan anak membuat kita lupa dari mengingat Allah swt. Yang menjadi persoalan kita adalah tidak semua orang bisa dengan mudah mengorbankan apa yang mereka miliki untuk dimanfaatkan dijalan Allah, karena itu ada 4 hal yang harus kita lakukan agar kita bisa berkorban dijalan Allah. Pertama, merenungi dan menghitung-hitung betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita dan bila kita telah menghitungnya, maka kitapun tidak akan bisa menghitung keseluruhannya karena begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita dan kita harus bersyukur atau berterimakasih kepadaNya dalam bentuk pengabdian kepada Allah. Kita bisa melihat, bisa berjalan, bisa menghirup udara yang segar, bisa berbicara, bisa mendengar, bisa minum dan sebagainya merupakan diantara nikmat Allah yang harus kita syukuri dan berkorban dijalan Nya merupakan salah satu wujud dari rasa syukur kepada Allah swt, Allah berfirman: لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون وما تنفقوا من شيء فإن الله به عليم “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (surat al-Imran :92) Kalau kita bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita, maka kenikmatan yang Allah berikan itu akan ditambah, baik ditambah jumlahnya maupun ditambah daya gunanya sehingga orang suka mengatakan apa yang dimilikinya membawa keberkahan dan bila ternyata kita tidak mau membuktikan rasa syukur itu, maka cepat atau lambat Allah akan menunjukkan siksanya yang sangat pedih. Kedua, menghindari pembelanjaan yang sia-sia, hal ini karena bagi seorang muslim apa yang dilakukannya harus berguna tak boleh sia-sia, termasuk dalam soal penggunaan harta dan itupula yang membuat seorang bisa mencapai keberuntungan, Allah berfirman: قد أفلح المؤمنون الذين هم فى صلاتهم خاشعون والذين عن اللغو معرضون “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang0orang yang khusu’ dalam shalatnya dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna” (Surat Al-Mu’minun :1-3) Larangan Allah dalam soal membelanjakan harta yang sia-sia bukan hanya agar seorang muslim termasuk orang yang beruntung, tapi juga agar seorang muslim tidak termasuk kelompok orang yang menjadi saudara syaitan karena hal itu termasuk pemborosan, Allah berfirman : ولا تبذر تبذيرا إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين وكان الشيطان لربه كفورا “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syetan dan syetan itu sangat ingka kepada Tuhannya” (Surat Al-Israa :25-26) Ketiga, meneladani orang-orang yang berkorban di jalan Allah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat serta pengikut-pengikutnya. Banyak sekali diantara mereka yang begitu besar tingkat pengorbanannya melebihi apa yang diharuskan. Diantara mereka misalnya pengorbanan yang dilakukan oleh Abu Bakar As-Shiddiq yang membawa semua uangnya dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah bersama Rasul saw. Abu Bakar melakukan hal itu karena dia tahu keluarganya dalam hal ini istri dan anak-anaknya telah siap untuk tidak ditinggalkan apa-apa. Begitu juga dengan Yasir dan Sumayyah, suami istri yang menjadi budak dan rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan iman. Bilal bin Rabah juga siap menderita dengan siksaan yang berat dari tuannya demi mempertahankan iman dan masih banyak lagi kalau harus kita sebutkan satu persatu. Keempat, yang harus dilakukan seorang muslim agar bisa berkorban dijalan Allah adalah dengan menghilangkan sifat materialistis dari jiwanya masing-masing. Hal ini karena manakala sifat ini masih melekat dalam jiwa seseorang, sangat sulit baginya untuk bisa berkorban secara ikhlas dijalan Allah. Materialisme membuat orang menjadi begitu cinta pada hal-hal yang bersifat duniawi, sementara baik dan buruk, hebat dan tidak hebat seringkali diukur dengan patokan materi, menguntungkan atau tidak secara materi, nabi Muhammad saw telah mensinyalir dalam satu hadist yang panjang dengan istilah Wahn yaitu hubbuddunya wakarohiyatulmaut, inta dunia dan takut mati. Akhirnya bisa kita sadari bahwa berjuang dijalan Allah guna menegakkan nilai-nilai Islam merupakan kewajiban yang harus diemban oleh kaum muslimin, untuk itu diperlukan daya dukung yang besar bagi pelaksanaan perjuangan itu, tanpa itu sangat sulit bagi kita untuk bisa melaksanakan perjuangan, itu sebabnya dituntut adanya pengorbanan kita semua, baik pengorbanan dari segi waktu, tenaga, pikiran, dana sampai nyawa sekalipun. Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang memiliki semangat perjuangan bagi tegaknya nilai-nilai yang datang dari Allah dan kita mau berkorban dengan segala yang kita miliki. Suatu hari pada musim haji, Abdullah bin Mubarak yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci tertidur di Masjidil Haram. Dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan seorang malaikat yang memberitahunya bahwa ibadah haji umat Islam tahun itu diterima Allah hanya karena kebaikan seorang tukang sepatu. Sehabis itu Mubarak terbangun. Betapa penasarannya beliau dengan mimpi itu dan betapa penasarannya beliau dengan tukang sepatu yang diceritakan malaikat dalam mimpinya itu. Apa gerangan yang dilakukan tukang sepatu itu sehingga menyebabkan ibadah haji seluruh umat Islam tahun itu diterima Allah? Beliau lalu mencari tahu siapa gerangan tukang sepatu itu dan dimana tempatnya. Hingga akhirnya beliau berhasil menemui tukang sepatu dan meminta cerita apa amalan yang dilakukannya sehingga mengantarkan diterimanya ibadah haji seluurh umat Islam tahun itu? Lalu tukang sepatu itu pun menceritakan ihwalnya, bahwa dia bersama isterinya selama 30 tahun berencana untuk naik haji. Selama itu tiap hari, minggu dan bulan dia menabung dan mengumpulkan uang untuk biaya naik haji dari jasa membuat dan memperbaiki sepatu. Tahun ini tabungan hajinya bersama isteri sudah cukup dan dia berencana untuk naik haji. Namun apa yang terjadi? Suatu hari isterinya mencium bau harum masakan dari tetangganya. Karena penasaran dengan harum masakan itu isteri tukang sepatu itu memberanikan diri menghampiri tetangga dengan maksud ingin meminta sedikit masakan sekedar ignin mencicipinya . “Wahai tetangga yang baik, hari ini saya mencium harumnya masakanmu, bolehkah saya mencicipi barang sedikit?” pinta isteri tukang sepatu itu kepada tetangganya. “Tuan puteri yang baik, masakan ini tidak halal bagimu”, jawab tetangga. “Mengapa tidak halal?” tanya isteri tukang sepatu itu dengan penasaran. “Daging yang kami masak adalah bangkai yang kami temukan di jalan. Kami tidak tega melihat anak-anak kami kelaparan. Kami sudah banting tulang mencari makanan yang lebih baik, tapi kami tidak menemukannya. Akhirnya hanya bangkai ini yang kami temukan, lalu kami masak biar anak-anak dan keluarga kami tidak semakin menderita” Mendengar cerita itu, isteri tukang sepatu itu sepontan pulang dan menceritakannya kepada suaminya. Si tukang sepatu tanpa banyak bicara segera membuka tabungan haji yang dikumpulkannya selama 30 tahun dan dibawanya ke rumah tetangga. “Wahai tetangga yang baik, ambillah semua uang ini untuk keperluan makan kamu dan keluargamu, ini lah haji kami”, kata tukang sepatu itu. Perbuatan mulia tukang sepatu itulah yang dijadikan Allah sebagai penyebab diterimanya amalan ibadah haji seluruh jamaah haji tahun itu. **** Kisah di atas, menceritakan betapa hati yang mulia dan baik selalu mendapatkan tempat yang mulia di mata Allah. Hati yang baik mengantarkan kepada pemiliknya kepada perbuatan yang baik dan terpuji. Hati yang baik mendatangkan pahala dan karunia Allah tidak hanya untuk si pemiliknya, namun juga untuk seluruh umat manusia. Benarlah kata Rasulullah “Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah, kalau itu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh”. Hati yang baik bukanlah sekedar karunia dari Allah yang diberikan kepada orang-orang tertentu saja, namun hati yang baik juga bisa didapatkan dengan latihan dan pendidikan. Salah satu cara untuk mendapatkan hati yang baik adalah dengan senantiasa membuka komunikasi hati dan Allah. Allah adalah Dzat Yang Maha Baik, maka siapapun yang selalu berkomunikasi kepdaNya akan mendapatkan pancaran kebaikan. Semoga kita diberi karunia hati yang baik

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: